Jakarta, CNBC IndonesiaBursa Asia-Pasifik cenderung menguat pada perdagangan Kamis (4/4/2024), di mana investor masih mencerna komentar dari Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS).

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,75%, Straits Times Singapura menguat 0,57%, ASX 200 Australia bertambah 0,5%, dan KOSPI Korea Selatan melesat 0,95%.

Sementara untuk indeks pasar saham China dan Hong Kong pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur memperingati Hari Ching Ming

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung menguat terjadi di tengah bervariasinya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun 0,11%. Namun untuk S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil ditutup menghijau. S&P 500 naik 0,11%, sedangkan Nasdaq berakhir menguat 0,23%.

Semalam, lapangan kerja sektor swasta di AS kembali meningkat pada Maret lalu, membuat pasar semakin skeptis bahwa pemangkasan suku bunga acuan AS bakal dipangkas pada pertemuan Juni mendatang.

Automatic Data Processing (ADP) melaporkan lapangan kerja sektor swasta di AS meningkat sebesar 184,000 pada Maret lalu. Angka ini mengikuti kenaikan 155,000 (direvisi dari 140,000) yang tercatat pada Februari lalu dan berada di atas ekspektasi pasar sebesar 148,000.

Data inflasi yang masih cukup panas dan sektor manufaktur serta jasa yang masih bergeliat tampaknya membuat investor khawatir bahwa The Fed akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menurunkan suku bunga acuannya.

Hal ini membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali meningkat, yakni naik 2 basis poin (bp) menjadi 4,349%, menjadiyang tertinggi sejak November 2023.

Namun, indeks dolar AS terpantau masih melandai hingga 0,54% ke posisi 104,25 pada perdagangan kemarin.

Di lain sisi, Powell dalam pidatonya di acara Economic Outlookdi Stanford Business, Government, and Society Forum, Stanford, California, mengatakan bahwa butu waktu yang cukup lama bagi para pengambil kebijakan untuk mengevaluasi keadaan inflasi saat ini, sehingga menentukan waktu potensi penurunan suku bunga masih belum pasti.

“Mengenai inflasi, terlalu dini untuk mengatakan apakah angka inflasi baru-baru ini mewakili lebih dari sekedar kenaikan,” kata Powell dalam sambutannya menjelang sesi tanya jawab di Universitas Stanford.

Pernyataan tersebut muncul dua pekan setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.

Selain itu, pernyataan pasca-pertemuan komite pada tanggal 20 Maret mencakup kualifikasi “kepercayaan lebih besar” yang diperlukan sebelum pemotongan.

Dengan masih belum pastinya kapan pemangkasan dilakukan menurut Powell, ekspektasi pasar akan dipangkasnya suku bunga acuan pada pertemuan Juni mendatang semakin menurun.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, investor di AS memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 61,5% pada Juni, turun dari sekitar 63,8% pada pekan lalu.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Mulai Bangkit, Cuma Shanghai China yang Masih Loyo


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *