Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa indeks literasi keuangan syariah naik 30% di tahun 2023 menjadi 39%. Namun, inklusi keuangan syariah tercatat masih stagnan di angka 12%.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2019 ke 2022, indeks literasi keuangan syariah Indonesia masih berada di level 9%, meski inklusinya naik dari 9% ke 12%.

Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, mengungkapkan terjadi peningkatan yang mencolok dalam literasi keuangan syariah tahun 2023.

Mengacu data dari Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan syariah naik sebesar 30% dari tahun sebelumnya, mencapai angka 39% pada tahun 2023. Namun demikian, angka inklusi keuangan syariah masih tetap di 12%.

“Tetapi inklusinya masih tetap di 12%. Jadi rasanya ini adalah PR kita semua. Tapi ini berarti room to grow kita masih sangat besar. Jadi ini menjadikan kita semangat, supaya tahun mendatang, inklusi kita bisa lebih dari 12 persen,” kata Friderica yang kerap disapa Kiki tersebut pada Puncak Acara GERAK Syariah 2024, Kamis, (4/4/2024).

Sejalan dengan visi dan misi Wakil Presiden Ma’ruf Amin untuk pengembangan ekonomi keuangan syariah, OJK telah mengambil langkah konkret dengan pembentukan Kelompok Kerja Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah (POKJA).

“POKJA dalam satu bulan sudah meliterasi secara syariah 3 juta orang Indonesia,” ungkapnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Potret Aktifitas Kontak 157 OJK saat Layani Pengaduan


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *