Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia semakin tinggi di tengah perkiraan semakin tingginya permintaan global hingga meningkatnya risiko geopolitik

Dilansir dari Refinitiv, harga minyak dunia Brent hari ini (11/4/2024) berada di angka US$90,72 per barel, sementara minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) berada di angka US$86,41 per barel.



Pasar semakin bullish terhadap minyak, memperkirakan pertumbuhan permintaan global yang kuat dan kendala pasokan, termasuk pengurangan produksi oleh The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia, akan mendorong harga lebih tinggi lagi di musim panas.

Dengan harga minyak Brent yang menembus di atas US$90 per barel, terdapat ruang untuk kenaikan lebih lanjut di tengah pengetatan pasar dan meningkatnya risiko geopolitik, kata bank investasi, dan tidak mengesampingkan harga minyak US$100 tahun ini.

Jika OPEC+ memutuskan pada awal bulan Juni untuk mempertahankan pemotongan produksinya setelah akhir semester pertama, kita dapat melihat pasar minyak yang “sangat ketat” pada paruh kedua tahun ini, kata eksekutif Citadel, seraya menambahkan bahwa waktu perjanjian OPEC+ berpotensi dilonggarkan.

Lebih lanjut, harga minyak mengalami kenaikan karena terdapat kekhawatiran geopolitik yang masih ada di Timur Tengah, permintaan yang masih kuat dan bisa menjadi lebih kuat dari perkiraan, serta masalah pasokan dan infrastruktur yang menghambat produksi dan ekspor, dari Meksiko hingga Rusia.

CEO Vitol Group, Russell Hardy memperkirakan bahwa pertumbuhan permintaan minyak global yang kuat pada tahun 2024, sekitar 1,9 juta barel per hari (bph) lebih tinggi dibandingkan tahun 2023.

Jika perkiraan ini benar, pertumbuhan konsumsi minyak tahun ini tidak akan terlalu jauh dari peningkatan permintaan pada tahun 2023.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menaikkan perkiraan konsumsi minyak global pada tahun 2024 dan 2025 sebesar antara 400.000 barel per hari hingga 500.000 barel per hari, karena revisi data historis untuk tahun 2022 dan “dinamika pasar saat ini,” ungkap EIA dalam laporan bulanannya.

Sementara Morgan Stanley melihat meningkatnya risiko geopolitik yang mendorong harga Brent menjadi US$94 per barel pada kuartal ketiga karena bank tersebut menaikkan perkiraan harga sebesar US$4 per barel dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya.

Jika OPEC+ melanjutkan pemotongan setelah bulan Juni, “Kita akan melihat tingkat pengetatan pasar yang akan sangat menghambat pasar, dan harga yang tinggi harus dihilangkan dan membantu menghancurkan permintaan untuk memecahkan masalah tersebut,” kata Citadel’s Barrack di KTT Global Komoditas FT.

Kendati terdengar menggoda bagi OPEC untuk menjual minyak pada harga US$100 per barel, kartel tersebut mungkin tidak bersedia mengambil risiko guncangan inflasi lagi yang dapat melumpuhkan permintaan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Persediaan Melimpah AS & Permintaan Lesu Tekan Harga Minyak


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *