Jakarta, CNBC Indonesia – Setelah libur panjang lebaran, rupiah diperkirakan bakal melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) lantaran banyak tekanan eksternal mencuat.

Beberapa risiko yang potensi menekan rupiah diantaranya, inflasi AS lebih panas dari ekspektasi, prospek the Fed lebih lama menurunkan suku bunga, hingga eskalasi perang Israel-Iran.

Berbicara soal rupiah, pada penutupan perdagangan sebelum libur lebaran, Jumat (5/4/2024) berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengalami penguatan sebesar 0,31% di angka Rp15.840/US$.


Angka tersebut merupakan posisi terkuat sejak 26 Maret 2024. Kinerja dalam seminggu juga tercatat mengalami apresiasi tipis 0,06%.

Rupiah yang menguat pada pekan itu dibantu oleh penggunaan cadangan devisa menjadi yang digunakan Bank Indonesia (BI) untuk intervensi.

Hal tersebut kemudian tercermin pada rilis BI mengenai data cadangan devisa (cadev) yang terpantau turun dibandingkan periode Februari 2024.

Cadev Indonesia per Maret 2024 sebesar kembali turun ke angka US$140,4 miliar atau turun US$3,6 miliar dari sebelumnya sebesar US$144 miliar. Penurunan ini juga merupakan yang terdalam sejak Mei 2023 yang menurun sebesar US$4,9 miliar menjadi US$139,3 miliar.

Selain untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, cadangan devisa susut ditengarai karena pembayaran utang luar negeri.

Kendati sempat menguat, tetapi risiko eksternal yang kini mencuat bisa menjadi halangan bagi rupiah. Beberapa analis bahkan memperkirakan rupiah bisa melemah hingga menembus Rp16.000/US$.

Putera Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas memperkirakan rupiah bisa melemah hingga Rp16.077/US$ pada pembukaan hari ini, Selasa (16/4/2024) jika tidak ada intervensi dari Bank Indonesia (BI)

“Dengan dolar indeks (BBDXY) yang sudah menguat 1,45% selama libur panjang lebaran, jika BI tidak intervensi, rupiah bakal melemah ke Rp16.077/US$” terang Satria.

Dia menjelaskan lebih lanjut “Pelemahan lanjutan potensi menguji Rp16.200-Rp16.300/US$ lantaran ada periode pembayaran dividen di Mei 0 Juni, eksportis memburu dolar untuk antisipasi pelemahan rupiah, hingga spekulasi kemungkinan BI menaikkan suku bunga.

Satria bahkan memproyeksikan 70% kemungkinan BI bisa menaikkan suku bunga 25 bps pada pertemuan April ini.

Ekonom Bank Maybank Myrdal Gunarto juga mengatakan rupiah sudah menembus level Rp16.000/US$ di pasar non-deliverable forward (NDF) Singapura.

“Rupiah terlihat melemah karena posisi dolar AS yang tengah menguat secara global maupun regional Asia. Hal itu tercermin dari posisi variabel indeks dollar AS (DXY) yang posisinya terus menanjak,” ujar Myrdal.

DXY melonjak tinggi pada empat perdagangan terakhir dan mencapai posisi 106,205 pada Senin (15/4/024). Posisi ini sekaligus tertinggi sejak November 2023.

Namun, Myrdal menambahkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS kelihatannya akan ditahan untuk tidak melemah ke level psikologis di atas Rp16.000/US$ pada Selasa nanti.

BI akan kembali mengandalkan cadangan devisanya untuk melakukan intervensi di pasar Spot Rupiah, DNDF, maupun pasar sekunder obligasi domestik.

Jika menilik secara eksternal, banyak risiko yang mencuat sepanjang Indonesia sedang libur panjang.

Ada Iran yang melakukan serangan udara ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024) dengan meluncurkan drone peledak dan menembakkan 300 rudal untuk membela diri atas upaya Negara Yahudi itu yang ingin memperluas eskalasi perang di Timur Tengah.

Tensi geopolitik di timur tengah yang makin panas membuat para pelaku khawatir akan ada perang lebih besar yang dapat membuat ekonomi dunia makin terpuruk. Ini menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Dampak jangka pendek yang terlihat adalah ancaman inflasi yang kembali melonjak akibat harga minyak dunia yang saat ini diperdagangkan di US$90 per barel.

Harga minyak dunia yang saat ini diperdagangkan di level US$90 per barel dikhawatirkan bisa kembali melonjak jika perang di timur tengah tidak mereda. Dampaknya adalah inflasi yang makin tinggi, terutama di Amerika Serikat yang akan berpengaruh terhadap kebijakan suku bunga bank sentralnya.

Jika kemudian inflasi menguat, ada kemungkinan bank sentral AS Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi lebih lama dan akan mengacaukan pasar keuangan.

Inflasi Amerika Serikat (AS) periode Maret 2024 mencapai 3,5% secara tahunan (yoy), lebih panas dari prediksi pasar yang proyeksi bisa melandai ke 3,4% yoy.

Begitu pula dengan inflasi inti yang lebih panas dari konsensus yang memperkirakan angka 3,7% yoy. Namun kenyataannya mencapai 3,8% yoy pada Maret 2024, sama seperti bulan sebelumnya.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch memperkirakan suku bunga acuan The Fed tetap dipertahankan di 5,25% – 5,5% hingga September 2024, mundur dari keyakinan sebelumnya pada Juni.



Teknikal Rupiah

Dalam basis waktu per jam, sebenarnya tren pergerakan rupiah sudah mulai sideways lantaran sudah ada penguatan pada hari terakhir sebelum libur panjang,

Namun, jika menilai posisi rupiah yang masih di atas garis rata-rata selama 200 jam atau Moving Average/MA 200 menunjukkan rupiah masih potensi mengalami pelemahan.

Terdekat jika rupiah menembus resistance Rp15.870/US$ yang diambil dari garis horizontal berdasarkan high candle intraday 5 April lalu, maka rupiah potensi melemah menembus level psikologis Rp16.000/US$.

Di sisi lain, jika ada pembalikan arah, support paling dekat bisa dicermati di Rp15.830/US$, ini bertepatan dengan garis MA200-nya.




Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Prabowo Menang Quick Count, Bagaimana Nasib Rupiah Hari Ini?


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *