Jakarta, CNBC Indonesia – Pertama kali sejak tahun 2020, rupiah telah tembus ke level Rp16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan kini mengintai industri perbankan Tanah Air. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 1,33% menjadi Rp16.050/dolar AS pada Selasa (16/4/2024).

Rupiah melemah di tengah indeks dolar AS melonjak tinggi pada empat perdagangan terakhir dan mencapai posisi 106,205 pada Senin (15/4/024).

Sektor perbankan pun tidak terlepas dari dampak pelemahan ini. Pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo dampak terhadap sektor perbankan dapat dilihat dari berbagai sisi.

“Sisi portfolio aset korporasi terutama yang terkait perdagangan internasional, baik ekspor atau impor akan terpengaruh pada rantai pasokan dan distribusi/logistik,” ujar Arianto saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Kemudian, sisi aset dan liabilitas valuta asing (valas) akan terpengaruh karena melemahnya rupiah terhadap dolar. Dalam hal ini, Arianto mengatakan “posisi long/short valas menuntut bank segera menuusun strategi hedging yang tepat.”

Selanjutnya, pada sisi retail dalam negeri, akan terpengaruh karena nasabah perorangan akan mulai mempertimbangkan investasi yang aman dalam jangka panjang. Meski dengan janji imbal hasil lebih rendah, alokasi masyarakat kepada tabungan akan beralih ke deposito dan pasar uang.

“Untuk mengantisipasi dampak tersebut bank harus memperhatikan 3 hal tersebut diatas dan mengaplikasikanya dalam strategi bertahan yang prudent,” ujar Arianto.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin menyebut dampak pelemahan rupiah akan berpengaruh pada aset kredit berupa kredit korporasi atau kredit komersial yang berbasis valas dengan nilai yang besar.

“Nah, ini pasti akan terjadi kemungkinan bisa menunggak atau turun kolektabilitas. dan ini harus jadi antisipasi. Mungkin dengan early warning system, dengan monitoring, dengan segala upaya yang mungkin agak ketat. Karena kalau dirupiahkan, nilainya cukup signifikan dengan penurunan dan atau pelemahan rupiah ini. Jadi harus diantisipasi, sehingga jangan sampai dalam jangka panjang akan menjadi NPL (non performing loan),” kata Amin saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Ia melanjutkan, harus ada pembentukan pencadangan yang cukup tinggi untuk mengantisipasi meningkatnya NPL. Hal ini akan menggerus perolehan laba.

Selain itu, pada pendanaan valas, harus dilihat apakah pelemahan rupiah ini membuat nasabah mengambil untung dengan menarik dananya.

“Atau mereka tetap keep aja dananya itu dalam bentuk valas, dan ini tidak akan terlalu banyak mengganggu. Kalau emang itu nyatanya terhadap likuiditas banknya,” pungkas Amin.

Tetapi, tambahnya, sesungguhnya industri perbankan tidak akan terlalu banyak terganggu dengan dampak pelemahan rupiah ini terhadap aset dan liabilitas bank.

“Karena biasanya kan yang memiliki fasilitas kredit valas ini adalah bank-bank besar. Bank-bank menengah juga ada tapi terlalu signifikan nilainya,” ucap Amin.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Awas Kaget! Nilai Tukar Rupiah Bakal Segini Tahun Depan


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *