Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) menegaskan bank sentral akan melakukan sejumlah langkah dalam memastikan nilai tukar tetap stabil di tengah sentimen pelemahan rupiah di awal perdagangan pasca-libur Lebaran.

Rupiah ambruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini. Nilai tukar menyentuh level Rp16.000/dolar AS pertama kali sejak 2020. Mengutip data Refinitiv pada Selasa (16/4/2024) rupiah dibuka melemah 1,33% menjadi Rp16.050/dolar AS.

Rupiah melemah di tengah indeks dolar AS melonjak tinggi pada empat perdagangan terakhir dan mencapai posisi 106,205 pada Senin (15/4/024). Posisi ini sekaligus tertinggi sejak November 2023.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) BI Edi Susianto mengungkapkan periode libur Lebaran terdapat perkembangan di global dimana rilis data fundamental AS makin menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat seperti data inflasi dan retail sales yang di atas ekspektasi pasar. Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh memanasnya konflik di timur tengah khususnya konflik Iran-Israel.

“Perkembangan tersebut menyebabkan makin kuatnya sentimen risk off, sehingga mata uang emerging market khususnya Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ujar Edi kepada CNBC Indonesia.

Sementara itu, indeks dolar (DXY) selama periode libur lebaran menguat sangat signifikan yaitu dari 104 menjadi di atas 106, bahkan pagi ini sudah mencapai angka 106,3.

“Selama libur lebaran, Pasar NDF IDR di offshore juga sudah tembus di atas Rp 16.000, atau sudah di sekitar Rp 16.100, sehingga rupiah dibuka di sekitar angka tersebut (di atas Rp 16.100),” kata Edi.

Menurut Edi, BI akan melakukan langkah- langkah konkret. Pertama, BI akan menjaga kestabilan Rupiah melalui menjaga keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF.

Kedua, BI meningkatkan daya tarik aset Rupiah untuk mendorong capital inflow, seperti melalui daya tarik SRBI dan hedging cost. Ketiga, BI tetap koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait, seperti pemerintah, Pertamina dan lainnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Lumayan Bisa Napas, Gonjang Ganjing Global Mulai Reda


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *