Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar saham di Asia-Pasifik melanjutkan penurunannya karena dunia menunggu tanggapan Israel terhadap serangan udara Iran pada akhir pekan lalu. Konflik timur tengah yang kembali memanas membuat pasar penuh dengan ketidakpastian. 

Pada hari Selasa (16/4/2024), kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 16.430, menunjukkan pembukaan yang lebih lemah dibandingkan penutupan HSI di 16.600.

Nikkei 225 Jepang anjlok 1,5% pada pembukaan, sedangkan Topix berbasis luas turun 1,04%.

Anjloknya bursa Jepang dipengaruhi oleh mata uang yen yang mencapai 154 per dolar Amerika Serikat, level terendah sejak Juni 1990.

Greenback menguat karena inflasi yang masih stagnan dan pertumbuhan yang kuat menyebabkan investor menurunkan ekspektasi mengenai waktu penurunan suku bunga Federal Reserve. Bank sentral AS kini juga memperkirakan akan melakukan pemotongan lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan juga turun 1,31% dan saham berkapitalisasi kecil Kosdaq mengalami kerugian lebih kecil yaitu 0,86%. Di Australia, itu S&P/ASX 200 turun 0,86% lebih rendah dari hari sebelumnya.

Semalam di AS, saham-saham melemah pada hari Senin karena kenaikan imbal hasil dan kekhawatiran atas konflik di Timur Tengah menutupi kuatnya pendapatan Goldman Sachs dan data penjualan ritel yang panas.

Rata-rata Industri Dow Jones kehilangan 0,65%, menandai hari kekalahan keenam berturut-turut, penurunan beruntun yang tidak terlihat sejak Juni.

S &P 500 tergelincir 1,2% meskipun diperdagangkan naik sebanyak 0,88% di awal sesi. Komposit Nasdaq anjlok 1.79%.

Suku bunga yang lebih tinggi juga meredam pergerakan pasar, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun naik di atas level penting 4,6% di sesi tersebut dan mencapai titik tertinggi sejak pertengahan November.

Investor juga fokus kepada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2024. Menurut konsensus TradingEconomics, ekonomi China akan tumbuh melambat yakni 5% dari kuartal sebelumnya 5,2%.

Kemudian ada rilis angka produksi industri dan penjualan ritel China juga diperkirakan akan dirilis pada hari ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Menguat, Nikkei Pimpin dengan Kenaikan 0,76%


(ras/ras)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *