Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro buka suara mengenai kemungkinan Bank Indonesia (BI)┬ámenaikan tingkat suku bunga BI Rate di tengah harga dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp 16.000/US$.

Bambang mengatakan BI harus benar-benar memperhitungkan dampak dari kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Apa yang bisa dilakukan Bank Indonesia? Tentunya kalau menaikan tingkat bunga terlalu cepat itu harus kita hitung dampaknya terhadap ekonomi kita sendiri,” kata Bambang dalam program Closing Bell CNBC Indonesia, dikutip Rabu (17/4/2024).

Dia mengatakan jangan sampai kenaikan suku bunga BI itu menjadi tindakan yang sia-sia. Sebab, kata dia, saat ini dolar AS memang tengah dalam kondisi yang sangat kuat terhadap mata uang lainnya.

“Jangan sampai peningkatan suku bunga itu seperti menggarami air laut, artinya tidak berdampak karena yang lagi kuat adalah pihak dolar-nya,” kata dia.

Bambang menilai masih ada opsi selain menaikkan suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Opsi itu adalah menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar.

“BI otomatis menggunakan cadangan devisa untuk memastikan kalaupun ada fluktuasi itu relatif bisa lebih stabil, artinya tidak terlalu liar dan diupayakan ada penguatan sedikit dari pelemahan yang sedang terjadi,” kata dia.

Sebelumnya, mata uang Rupiah mengalami nasib buruk karena mencapai posisi terendah sejak pandemi Covid-19. Dilansir dari Refinitiv, rupiah pada Selasa (16/4/2024) ditutup di angka Rp16.170/US$ yang merupakan posisi terendah sejak 6 April 2020 atau sekitar empat tahun terakhir. Hal ini diikuti oleh kenaikan indeks dolar AS (DXY) pada 14:54 WIB sebesar 0,1% ke angka 106,31.

Selain karena sentimen suku bunga tinggi The Fed dan konflik Iran-Israel, Rupiah memiliki kecenderungan pelemahan setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri yang memiliki durasi lebih dari satu minggu. Dalam 10 tahun sejak 2014, rupiah menguat satu hari setelah libur hanya pada 2016,2019, dan 2023.

Pelemahan nilai tukar Rupiah ini serta ancaman inflasi dikhawatirkan akan membuat BI berbalik arah kembali kepada pengetatan. BI sendiri akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 23-24 April 2024 atau pekan depan.

Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, memperkirakan ada peluang 70% jika BI menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 6,25% pada pekan depan. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi alasan utama dari kemungkinan kenaikan tersebut.

“Rupiah bisa terus terekspos jika inflasi AS dan data tenaga kerja SS masih kuat hingga pemilihan presiden AS November mendatang,” tutur Satria dalam analisanya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan akan berkomitmen untuk terus melakukan stabilisasi pergerakan rupiah di pasar keuangan. Perry mengatakan BI juga bisa melakukan intervensi di pasar spot, hingga non-delivery forward atau NDF.

“BI selalu ada di pasar dan kami akan memastikan nilai tukar akan terjaga gitu, kita lakukan intervensi baik melalui spot maupun non delivery forward (NDF),” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Istana Kepresidenan Jakarta, seperti dikutip Rabu (17/4/2024).

“Kami jajakan koordinasi dengan pemerintah, dengan fiskal, bagaimana jaga moneter dan fiskal. Kami pastikan kami di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi,” tegas Perry.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sinyal BI Pangkas Suku Bunga Tahun Ini, Rupiah Patahkan Tren Pelemahan


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *