Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terus melemah dan sejumlah masyarakat pun mengambil keuntungan dengan menjual dolar. Hari ini, Rabu (17/4/2024) dibuka anjlok 0,49% ke Rp16.250 per dolar Amerika Serikat (AS), menurut data Refinitiv. Ini menjadi yang terendah sejak April 2020 atau empat tahun terakhir.

Lantas, bagaimana kondisi likuiditas valuta asing (valas) di Indonesia? Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam valas melambat signifikan per Februari 2024. Menurut Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa hal itu terjadi lantaran masyarakat kelas menengah mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Pada periode yang sama DPK valas korporasi juga ikut melambat. Per Januari 2024, DPK valas korporasi tumbuh 5% yoy, sedangkan pada bulan selanjutnya hanya 1,6% yoy.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin menyebut dampak pelemahan rupiah akan berpengaruh pada pendanaan valas. Sebab, pelemahan rupiah dapat mendorong nasabah mengambil untung dengan menarik dananya.

Bankir pun buka suara terkait hal ini.

Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar mengatakan secara tahunan (yoy), pendanaan valas di bank pelat merah itu tumbuh. Tetapi, ia menyebut sumber pertumbuhan itu tidak hanya berasal dari DPK.

“BNI [secara] YoY tumbuh, tapi sumber valas kan, bukan cuma DPK,” kata Royke saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (17/4/2024).

“Kami ada wholesale funding antara lain bonds. Kita baru menerbitkan global bond juga akhir Maret 2024.”

Sebelumnya, Royke menilai pelemahan rupiah saat ini juga masih aman untuk bank pelat merah itu. Namun, BNI bakal membatasi penyaluran kredit berbasis valas.

Di samping itu, tidak ada risiko kurs bagi para debitur valas di BNI. Sebab semua debitur harus mempunyai pendapatan dalam valas.

Untuk proyeksi pertumbuhan DPK valas di tengah tren pelemahan rupiah, Royke mengatakan itu akan bergantung pada pertumbuhan kredit valas.

“Kalau kredit valas tidak tumbuh, maka DPK juga akan tumbuh rendah,” katanya.

Di Bank Tabungan Negara (BTN), belum ada indikasi terjadi penarikan valas. Terlebih, Direktur Distribution and Institutional Funding BTN Jasmin menyampaikan total DPK valas di bank pelat merah itu tidak signifikan.

“Total DPK¬†valas BTN hanya 7,32% dari total DPK secara keseluruhan,” jelas Jasmin saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (17/4/2024).

Ia menjelaskan nasabah lebih banyak mengalokasikan dananya untuk menabung. Selain itu, korporasi yang menyimpan valas di BTN juga tidak terlalu banyak.

Jasmin memaparkan pertumbuhan DPK valas BTN pada akhir tahun lalu sebesar 6,42% dibandingkan periode Desember 2022. Menurutnya, saat ini likuiditas valas di BTN masih cukup untuk memenuhi permintaan kredit valas.

“Iya, [likuiditas valas] masih cukup. Lagian KPR BTN dan property related semuanya pembiayaannya dalam valuta rupiah. Fokus utama BTN, pembiayaan dalam rupiah,” ujar Jasmin.

Dengan tren pelemahan rupiah yang masih berlanjut, ia memproyeksikan DPK valas di BTN sekitar 8% hingga 10%. Jasmin menggarisbawahi bahwa DPK valas “hanya sebagai pelengkap likuiditas valas di BTN, jadi bukan yang utama.”

Di bank swasta Bank CIMB Niaga, tabungan valas individual juga masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi memaparkan tabungan valas individual tumbuh 40% yoy per Maret 2024. Sementara sepanjang tahun ini atau year to date, tumbuh 15%.

Ia menjelaskan pertumbuhan yang kuat itu dicapai karena tabungan XTRA Savers Valas yang memiliki beberapa keunggulan. Seperti, terdiri dari 14 mata uang, memungkinkan nasabah belanja dan tarik tunai di luar negeri tanpa konversi kurs. Kemudian, pembukaan rekeningnya juga bisa dilakukan kapan saja melalui Octomobile, serta bebas biaya admin bulanan.

“Rate bersahabat, kami ganti 3 kali lipat kalau ada yang lebih murah, dan masih banyak lagi programnya,” jelas pria yang akrab disapa Dede itu saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (17/4/2024).

Ia optimis pertumbuhan DPK valas di CIMB Niaga dapat tetap terjaga di double digit. Sebab, nasabah bank milik CIMB Group asal Malaysia itu membutuhkan tabungan untuk bertransaksi di luar negeri.

“Masih optimis [DPK valas] terjaga double digit growth, karena memang customer membutuhkan untuk transaksi di luar negeri juga. Termasuk mengirimkan dana untuk anak sekolah dan lain-lain,” kata Dede.

Sementara itu, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) mengakui bahwa pelemahan rupiah menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk mengambil untung. Meskipun begitu, Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi memaparkan simpanan dolar AS di BJB menunjukkan peningkatan sekitar 38% dalam satu triwulan pertama tahun ini.

“Karena memang nasabah yang memiliki simpanan dalam bentuk valas ini kebutuhannya adalah untuk transaksi, bukan untuk kebutuhan investasi,” jelas Yuddy saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (17/4/2024).

DPK valas di BJB, katanya, komposisinya masih relatif kecil dibandingkan dengan keseluruhan penghimpunan dana di BPD pentolan itu. “Di mana kontribusinya hanya sekitar 6% dari total DPK yang berjumlah Rp136,9 triliun,” ucap Yuddy.

Di sisi lain, Yuddy menyebut pelemahan rupiah ini dapat berdampak terhadap kebijakan suku bunga acuan guna menjaga nilai tukar.

“Dampak lainnya dari nilai tukar ini adalah kebijakan suku bunga yang akan diambil untuk menjaga nilai tukar sehingga kami perlu mengantisipasi masih tingginya biaya dana,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Awas Kaget! Nilai Tukar Rupiah Bakal Segini Tahun Depan


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *