Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah semakin keok di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis di atas Rp16.200/US$.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,28% di angka Rp16.215/US$ pada perdagangan Rabu (17/4/2024). Posisi ini merupakan yang terparah sejak 6 April 2020.


Rupiah yang makin melemah ditengarai sikap bank sentral AS atau the Fed yang kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat ini.

Jerome Powell menegaskan perlu lebih banyak waktu untuk memastikan pemangkasan suku bunga. Dalam diskusi panel di acara Washington Forum on the Canadian Economy, Washington, D.C. pada Selasa waktu AS (16/4/2024) ia mengatakan perekonomian AS belum melihat inflasi kembali sesuai target bank sentral yakni di kisaran 2%.

Senada dengan pernyataan para pejabat bank sentral baru-baru ini, Powell mengindikasikan tingkat kebijakan saat ini kemungkinan besar akan tetap berlaku sampai inflasi mendekati target 2%.

Data terbaru jelas tidak memberikan kita kepercayaan yang lebih besar, dan malah menunjukkan bahwa kemungkinan akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk mencapai kepercayaan tersebut,” katanya dalam forum bank sentral.

Menurut perangkat FedWatch peluang penurunan suku bunga The Fed baru akan terjadi September sebesar 25 basis poin menjadi 5%-5,25%. Peluang penurunan tersebut sebesar 46,5%.

Optimisme pasar mengenai penurunan suku bunga sudah bergeser cukup jauh dalam empat bulan pertama 2024.

Pada akhir 2023, pasar memiliki proyeksi penurunan suku bunga terjadi pada Maret 2024. Kemudian bergeser menjadi April dan terakhir Juni 2024.

Pergeseran ini karena data-data menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih kuat.

Tidak hanya The Fed, tekanan terhadap rupiah juga datang dari memanasnya konflik timur tengah antara Iran dan Israel.

Ketegangan di Timur Tengah akan meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor menahan diri atau memilih safe haven seperti dolar AS ketimbang di pasar berisiko.

Beralih pada hari ini, Kamis (18/4/2024) fokus investor akan tertuju ke rilis data pekerjaan AS. Sebab, data pekerjaan menjadi salah satu faktor penting, selain inflasi, dalam penentuan arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis per jam, rupiah terlihat masih dalam tren pelemahannya. Rupiah rawan melemah menguji level psikologis terdekat di Rp16.300/US$.

Kendati begitu, jika ada pembalikan arah menguat bisa diperhatikan support terdekat yang diambil berdasarkan garis rata-rata selama 20 jam atau Moving Average/MA 20 di posisi Rp16.150/U$.




Pergerakan rupiah melawan dolar aSFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar aS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Dua Faktor Ini Buat Rupiah Menguat, Dolar Stabil Rp15.505


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *