Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah melampaui level Rp 16.000 per dolar AS ternyata tidak hanya disebabkan oleh permasalahan sentimen pelaku pasar keuangan terhadap gejolak eksternal. Kerentanan pasar keuangan domestik juga menjadi pemicu anjloknya rupiah ke level itu.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, salah satunya ialah neraca transaksi berjalan Indonesia yang masih rentan defisit, akibat neraca jasa yang kerap tekor meskipun neraca perdagangan telah surplus 46 bulan berturut-turut. Menyebabkan pasokan dolar dari surplus perdagangan kerap tereduksi menutupi defisit transaksi jasa.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, sepanjang 2023 lalu, transaksi berjalan secara keseluruhan telah defisit atau minus US$ 1,56 miliar. Neraca transaksi barang secara total pada saat itu masih mampu surplus sebesar US$ 46,34 miliar, namun, untuk neraca transaksi jasa-jasa telah minus atau defisit hingga US$ 17,91 miliar.

“Neraca jasa kita dari dulu, dari zaman kita baru mulai merdeka sampai sekarang selalu negatif. Jadi, untuk biaya asuransi, biaya pengapalan, biaya bayar bunga, bayar dividen, itu biasanya kita membuat neraca jasa kita negatif,” kata David kepada CNBC Indonesia, Rabu (17/4/2024).

Transaksi modal yang diharapkan mampu menjaga peredaran pasokan valuta asing atau valas lebih lama di tanah air pun sangat minim. Secara keseluruhan pada 2023 nilainya hanya sebesar US$ 43 juta. Menyebabkan, pasokan dolar di dalam negeri masih harus bergantung pada investasi portofolio yang mudah keluar dari dalam negeri ketika ada sentimen buruk di global.

“Karena kalau FDI (foreign direct investment) so-so aja, begitu aja tiap tahun, tapi untuk balance neraca jasa kita yang cukup besar defisitnya ya perlu dari portofolio tadi ditambah dengan surplus neraca dagang,” tutur David.

“Selama ini kita memang neraca dagangnya enggak begitu bagus nih tapi dua tahun terakhir cukup oke, karena kan impornya enggak banyak naik, di satu sisi di sisi lain ekspor komoditas membantu pasca perang Ukraina. Ini kalau masuk semua sebenarnya oke tapi sebenarnya saya lihat belum efektif, belum semua DHE (devisa hasil ekspor) kita masuk,” tegasnya.

Untuk menarik derasnya valas dalam bentuk investasi portofolio, David mengakui pasar keuangan Indonesia sudah memiliki banyak instrumen, mulai dari saham, obligasi, hingga instrumen baru yang disediakan Bank Indonesia seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI). Tapi, masalahnya tenor yang ditawarkan masih terlalu singkat.

“Risikonya kalau portofolio enggak sticky, sewaktu-waktu bisa keluar, makanya perlu diperkenalkan juga instrumen-instrumen yang lebih panjang ya,” ucap David.

Oleh sebab itu, David menekankan, selain pentingnya memperkuat pasokan valas atau dolar di dalam negeri melalui penguatan instrumen kepatuhan DHE, pengenalan instrumen investasi portofolio dengan tenor panjang juga perlu dilakukan BI, seperti tenor SBN yang telah mampu mencapai puluhan tahun.

“SBN kita yang 30 tahun mungkin yang panjang-panjang itu perlu juga diintroduce, untuk instrumen lain juga perlu. Jadi, perlu instrumen menengah panjang juga kelihatannya karena kalau di Meksiko misalnya dan beberapa negara Amerika Latin itu ada yang 100 tahun SBN tenornya, ada 50 tahun, 100 tahun ada, di kita belum,” kata David.

Dikutip dari World Economy¬†Outlook Edisi April 2024, Dana Moneter Internasional atau IMF juga telah menyarankan sejumlah strategi untuk mengadapi penguatan dolar yang berpotensi terus meninggi dalam kurun waktu yang panjang. Salah satunya melalui strategi penguatan kebijakan moneter dalam IMF’s Integrated Policy Framework.

“Dalam konteks ini, Kerangka Kebijakan Terpadu IMF memberikan panduan mengenai respons kebijakan yang tepat, tergantung pada keadaan spesifik suatu negara,” tulis IMF.

Bagi negara-negara dengan pasar valuta asing yang dalam dan utang mata uang asing yang rendah, penyesuaian suku bunga kebijakan dan fleksibilitas nilai tukar menurut IMF adalah kebijakan yang tepat diterapkan. Menerapkan secara cepat dan tegas instrumen yang memberikan dukungan likuiditas, sekaligus memitigasi risiko moral hazard, juga akan membatasi dampak rambatan ketika ketegangan pasar keuangan muncul.

Sementara itu, jika pasar valasnya dangkal dan negara itu memiliki utang dalam bentuk mata uang asing yang besar perlu melakukan pengetatan kebijakan moneter seperti taper tantrum, yakni kebijakan pengurangan nilai aset oleh bank sentral. Menurutnya ini penting karena negara dengan kriteria itu mudah ditinggal oleh investor di instrumen investasi portofolio.

“Dalam kasus seperti ini, mungkin tepat untuk melakukan intervensi valuta asing atau menerapkan langkah-langkah manajemen aliran modal sambil menjaga kebijakan moneter dan fiskal pada kondisi yang tepat. Kebijakan makroprudensial harus membantu mengurangi kerentanan keuangan akibat paparan utang dalam mata uang asing dalam jumlah besar,” tulis IMF.

Ketika terdapat risiko hilangnya ekspektasi inflasi karena pergerakan nilai tukar yang tajam, intervensi valuta asing dapat mendukung kebijakan moneter, asalkan terdapat cukup cadangan devisa. Negara-negara yang berisiko terhadap guncangan eksternal dapat memanfaatkan sepenuhnya jaring pengaman keuangan global yang disediakan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional, termasuk fasilitas IMF precautionary financial arrangements.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Awas Kaget! Nilai Tukar Rupiah Bakal Segini Tahun Depan


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *