Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten farmasi BUMN PT Indofarma Tbk. (INAF) tengah terlilit sejumlah masalah keuangan. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, perusahaan telah resmi mengajukan penundaan pembayaran kewajiban utang sementara (PKPU) kepada PT Foresight Global, yang dikabulkan hakim pada 28 Maret 2024.

Selain itu, Indofarma dikabarkan belum membayar gaji karyawan untuk periode Maret 2024. Sebab, INAF belum memiliki kecukupan dana operasional untuk memenuhi kewajiban pembayaran upah karyawan.

“Berita bahwa Perseroan belum membayarkan upah terhadap karyawan untuk periode Maret 2024 adalah benar,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (18/4/2024).

Adapun INAF terakhir menyampaikan laporan keuangan per kuartal III/2023. Laporan keuangan akhir 2023 saat ini masih dalam proses finalisasi audit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP).

Bila dirinci, perusahaan memang mencatat kinerja negatif. Seperti rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang membengkak 4,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 191,7 miliar. Penjualan bersih pun turun 50,74% yoy menjadi Rp 445,70 miliar.

Penurunan itu diperparah dengan beban keuangan yang melonjak 34,85% yoy menjadi Rp 39,08 miliar pada sembilan bulan pertama tahun lalu.

Ekuitas perusahaan pun tercatat minus. Jumlah ekuitas INAF tercatat sebesar minus Rp 105,36 miliar per September 2023, berbalik 222% yoy dari yang setahun sebelumnya Rp 86,35 miliar.

Sementara itu, liabilitas perusahaan bertambah. Jumlah liabilitas tercatat sebesar Rp 1,6 triliun, naik 10,27% yoy pada kuartal III-2024. Rinciannya, utang usaha dari pihak berelasi yakni menjadi Rp 40,36 miliar. Utang pemegang saham juga naik menjadi Rp199,1 miliar.

Pinjaman bank jangka pendek pun naik menjadi Rp 154,62 miliar. Begitu pula dengan biaya yang masih harus dibayar meningkat menjadi Rp23,82 miliar. Jika ditotal, jumlah liabilitas jangka pendek meningkat 17,37% yoy menjadi Rp 1,156 triliun pada September 2023.

Tidak berhenti di situ, arus kas Perseroan per 30 September 2023 menunjukkan penurunan kas bersih kas dan setara kas sebesar Rp60,01 miliar. Hal ini disebabkan terjadinya arus kas negatif pada arus kas aktivitas operasi dan investasi.

Salah satu faktor pendorong penurunan kas bersih paling dipengaruhi oleh negatifnya arus kas aktivitas operasi sebesar Rp 188,66 miliar berasal dari tingginya pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan sebesar Rp 611,52 miliar dan pembayaran bunga sebesar Rp 20,58 miliar, tidak sebanding dengan penerimaan kas dari pelanggan yang hanya tercatat sebesar Rp 443,45 miliar.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Gugatan PKPU Terhadap Indofarma (INAF) Ditolak Pengadilan


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *