Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana penggabungan bank milik dua konglomerat, James Riady dan Hary Tanoesoedibjo, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) yang telah direncanakan sejak akhir 2022 itu hingga bulan ini belum juga menemukan titik terang.

Akan tetapi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan proyeksi terbaru bahwa merger kedua bank akan rampung pada kuartal III/2024. Sebagai catatan, OJK juga telah beberapa kali memberikan tenggat waktu merger. Pertama merger diperkirakan rampung pada Juni 2023. Lalu mundur menjadi Agustus 2023.

Saking lamanya proses merger kedua bank, kabar mengenai batalnya aksi korporasi tersebut pun beberapa kali berhembus. Satu sebabnya kedua bank sama-sama telah memenuhi ketentuan modal inti minimum. Selain itu, kedua pemilik disebut menemui jalan buntu saat berdiskusi siapa pengendali bank pasca-merger.

Kepala Eksekutif Pengawas PerbankanOJK DianEdiana Rae mengatakan bahwa merger Bank Nobu dan Bank MNC memerlukan waktu yang tidak sebentar. Hal ini dengan mempertimbangkan tingginya kompleksitas bisnis mengingat kedua entitas merupakan bagian dari ekosistem konglomerasi yang besar.

Kendati demikian, OJK akan terus melakukan koordinasi dalam rangka memastikan pemenuhan komitmen pemegang saham pengendali kedua bank. “Sebagaimana diketahui proses merger tersebut merupakan inisiatif kedua bank tersebut, dan selanjutnya itu menjadi komitmen mereka,” katanya dalam Rapat Dewan Komisioner OJK April 2024.

Adapun berdsarkan laporan kinerja per 31 Desember 2023, Bank Nobu membukukan laba bersih Rp 141,54 miliar, naik 36,3% secara tahunan (yoy). Capaian laba bank didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp 735,79 miliar pada 2023, naik 11,64% yoy.

Laba bank juga ditopang peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang tumbuh 180,56% yoy menjadi Rp138,29 miliar.

Kemudian dari segi intermediasi, Bank Nobu telah menyalurkan kredit Rp15,24 triliun, naik 22,79% dari Rp 12,41 triliun. Alhasil, aset bank ikut terkerek naik menjadi Rp 26,62 triliun, tumbuh 20,37% dari sebelumnya Rp 22,17 triliun pada 2022.

Dana pihak ketiga (DPK) NOBU naik 18,73% yoy menjadi Rp17,85 triliun dari sebelumnya Rp15,04 triliun pada 2022. Current account savings account (CASA) alias dana murah naik 7,95% menjadi Rp 7,27 triliun pada 2023 dari sebelumnya Rp 6,73 triliun pada 2022.

Sementara itu, Bank MNC melaporkan laba Rp 77,92 miliar, naik 48,4% yoy. Akan tetapi pertumbuhan ini bukan ditopang oleh kinerja utama perusahaan.

Pasalanya pendapatan bunga bersih perusahaan merosot 6,64% yoy menjadi Rp 604,7 miliar. Hal ini disebabkan oleh beban bunga bank yang membengkan seiring dengan pertumbuhan deposito sepanjang tahun lalu. Meski pendapatan bunga naik 13,77% yoy, tetapi beban bunga terbang 39,81% yoy.

Menilik laporan keuangan Bank MNC, laba tumbuh disebabkan oleh perbedaan beban pajak 2023. Pada 2022 bank menanggung pajak tangguhan Rp 101,56 miliar, sedangkan tahun lalu pajak tangguhan bank susut menjadi Rp 13,67 miliar.

Dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit MNC Bank tercatat sebesar Rp 10,25 triliun, naik tipis atau 0,53% yoy. Kredit bank pada tahun lalu tumbuh tipis seiring dengan strategi bank yang lebih banyak menempatkan dana di Bank Indonesia dan bank lain. Pos ini melesat 48,62% yoy menjadi Rp 2,69 triliun.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Molor 4 Bulan, OJK BIlang Gini Soal Merger MNC-Nobu


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *