Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja berpendapat bahwa penurunan suku bunga acuan global tidak akan dilakukan pada bulan Mei atau Juni tahun ini. Menurutnya, suku bunga acuan tersebut paling mungkin diturunkan pada bulan Desember 2024 atau “lebih ekstrem” tahun depan.

“Kalau kita lihat tahun lalu di Amerika itu ada beberapa skenario. Mulai dari rencana mereka bulan Mei mungkin sudah ada cut rate, kemudian geser ke Juni akan ada rate cut juga Fed. Tetapi terakhir kalau yang saya dengar beritanya bahwa mereka melihat bahwa ekonomi Amerika sendiri cukup baik, unemployment juga terkendali hanya inflasi aja yang masih belum mencapai target 2%,” terang Jahja saat konferensi pers kinerja BCA Kuartal I-2024 secara virtual, Senin (22/4/2024).

Maka dari itu, ia berpendapat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) akan menunggu apakah bulan Desember dapat menurunkan suku bunga.

“Saya percaya bahwa [penurunan suku bunga] paling tidak tahun ini tidak dalam waktu singkat. Paling tidak Mei, Juni tidak akan, lah,” kata Jahja.

Kemudian, ia mengatakan bahwa surat utang atau treasury bills AS yang jatuh tempo tahun ini sekitar US$7 triliun. Jahja mengatakan ada juga kebutuhan US$2 triliun tambahan untuk menutup kebutuhan AS. Sehingga totalnya, negeri Paman Sam itu membutuhkan US$9 triliun.

“Nah, pertanyaannya pembelinya siapa? Asumsinya yang US$7 triliun itu akan recurrent. Jadi pemegang treasury bills lama akan perpanjang,” katanya.

Jika mengamati kondisi pasar, Jahja mengatakan China secara gradual menempatkan deposit emas hingga sebesar US$3 triliun tahun lalu. Kemudian Jepang sudah mengurangi pembelian surat utang.

“Jadi kalau bunga atau kupon yang ditawarkan tidak terlalu menarik ini bisa jadi pertanyaan juga, siapa nanti yang akan membeli treasury bills itu,” kata Jahja.

Ia menambahkan hal ini juga menjadi salah satu dilema bagi AS. Maka dari itu, suku bunga higher for longer lebih mungkin terjadi di sana dan juga pengaruhnya ke Indonesia dan dunia.

“Artinya untuk pengurangan suku bunga di negara lain akan berat juga kalau US juga belum menurunkan suku bunga karena itu kan akan berisiko ya,” pungkas Jahja.

Ia juga berkomentar soal kemungkinan jika Bank Indonesia (BI) akan meningkatkan suku bunga acuan. Menurut Jahja, peningkatan suku bunga di BCA akan bergantung pada kondisi kas serta likuiditas bank swasta terbesar RI itu.

Ia menyebut salah satu ukuran likuiditas bank yakni rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di BCA saat ini masih sekitar 71%. Kondisi ini masih lebih rendah dibanding kondisi industri perbankan yang sudah mencapai 80-82%.

“Artinya ketersediaan likuiditasnya memang harus betul-betul jeli untuk dimanfaatkan,” kata Jahja.

Namun begitu, permintaan kredit BCA meningkat hingga 17,1% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2024 ini. Menurut Jahja, kebutuhan likuiditas BCA masih baik dan tidak perlu serta merta mengikuti suku bunga acuan.

“Kalau kita rasakan masih cukup, tentu hal ini kita tidak lakukan adjustment,” ujar Jahja.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pasar Optimis The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Naik Tipis


(ayh/ayh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *