Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Central Asia (BCA) mengungkapkan Paylater BCA telah mencatatkan pertumbuhan dalam sekitar enam bulan setelah peluncuran perdananya bulan September lalu. Direktur BCA Santoso mengungkapkan bahwa nasabah pengguna layanan menunda pembayaran dengan mencicil di bank swasta terbesar RI itu telah tumbuh 70% secara year to date (ytd) menjadi sebanyak 89 ribu saat ini.

Sementara itu, nilai outstanding pinjaman di Paylater BCA juga meningkat 61% ytd menjadi Rp185 miliar dari Rp115 miliar pada bulan Desember lalu. Santoso mengungkapkan bahwa plafon pinjaman juga naik dari akhir tahun lalu.

“Yang terpenting adalah kualitas kredit, kualitas kredit kami lihat posisi bulan Maret itu masih sekitar 0,47%. Jadi artinya, secara kualitas tetap prudent dan baik. Jadi ini hanya untuk menunjukkan kita terus menjaganya karena kualitas dengan juga pertumbuhan customer dan portfolio itu menjadi baik,” jelas Santoso saat konferensi pers kinerja BCA Kuartal I-2024 secara virtual, Senin (22/4/2024).

Adapun BCA tercatat menyalurkan kredit senilai Rp 835,7 triliun per kuartal I 2024, naik 17,1% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut diikuti oleh kualitas kredit yang membaik. Kredit dalam risiko atau loan at risk (LAR) pada kuartal I turun menjadi 6,6% dari sebelumnya 9,8%. Kemudian rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) sebesar 1,9%.

Sementara itu, NPL industri perbankan tercatat meningkat. Per Februari, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat NPL net naik menjadi 0,82%, sementara NPL gross stagnan di 2,35%.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan risiko kredit memang selalu ada, tetapi rasio kredit dalam risiko atau loan at risk (LAR) di industri perbankan Indonesia cenderung menurun. Ia menilai itu karena relaksasi kredit yang diberikan pemerintah pada saat pandemi Covid-19 “betul-betul mengawal” sehingga nasabah memiliki waktu untuk bangkit kembali usai pandemi. Begitu pula bagi perbankan yang dapat menyiapkan pencadangan.

“Tapi kalau ini saat ini sudah dicabut, saya kira market juga sudah lebih siap. Dan kita juga melihat bahwa sesudah dinormalisasi, NPL kita juga tidak bergerak terlalu drastis naik, tetap sekitar 1,9%,” pungkas Jahja pada kesempatan yang sama.

Di samping itu, BCA telah mencadangkan NPL dan LAR, masing-masing 220,3% dan 71,9%. Sementara LAR BCA telah turun dari yang double digit kini menjadi 6,6%.

“Jadi secara umum kalau dilakukan secara baik, dimonitor secara baik, waktu memberikan kredit juga secara prudent, memenuhi kaidah-kaidah yang ditentukan, ya nggak akan meningkatkan risiko kredit,” kata Jahja.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BCA Siapkan Tunai Rp 41,1 T Untuk Transaksi Nataru


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *