Jakarta, CNBC Indonesia Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah rilis data inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan penantian rilis data inflasi konsumen AS. Pergerakan mata uang garuda juga dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dengan rilisnya data neraca perdagangan dan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI).

Dilansir dari Refinitiv, rupiah menguat 0,06% di angka Rp16.080/US$ pada hari ini, Rabu (15/5/2024).

Sementara, DXY pada pukul 09.02 WIB turun ke angka 104,98 atau melemah 0,04%.


Penguatan terjadi meski data inflasi harga produsen di Amerika Serikat mencatat kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pada periode April 2024, didorong oleh lonjakan biaya jasa dan barang. Data ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tetap tinggi di awal kuartal kedua tahun ini.

Menurut laporan yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja pada hari Selasa, Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,5% pada April, setelah mengalami penurunan sebesar 0,1% pada bulan Maret secara bulanan (month to month/mtm). Secara tahunan (year on year/yoy), PPI meningkat 2,2% pada April, naik dari 1,8% pada Maret 2024.

Kenaikan ini lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters, yang memperkirakan PPI hanya akan naik sebesar 0,3% (mtm). Secara tahunan, PPI AS naik setara dengan proyeksi konsensus Trading Economics sebesar 2,2% (yoy).

Setelah rilis data PPI, perhatian sekarang tertuju pada pengumuman data inflasi indeks harga konsumen (CPI) bulan April 2024 yang akan segera diumumkan. Sebagai catatan, inflasi Amerika Serikat mencapai 3,5% (yoy) pada Maret 2024. Konsensus Trading Economics memperkirakan tingkat inflasi akan melambat menjadi 3,4% pada April 2024.

Jika inflasi tetap tinggi dan di atas perkiraan, ini dapat memperpanjang periode pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Chairman The Federal Reserve, Jerome Powell, di acara Foreign Bankers’ Association di Amsterdam, Belanda, mengungkapkan bahwa inflasi di Amerika Serikat melandai lebih lambat dari yang diharapkan, sehingga The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama atau higher for longer.

“Kami tidak memperkirakan ini akan mudah. Namun, inflasi melaju lebih tinggi dibandingkan yang kami perkirakan. Ini membuat kita harus bersabar dan membiarkan kebijakan yang terbatas bekerja,” tutur Powell, dikutip dari CNBC International.

Powell juga kembali menegaskan jika The Fed tidak akan menaikkan suku bunga kembali tahun ini.

Pergerakan mata uang garuda juga akan dipengaruhi oleh data neraca perdagangan yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Rabu (15/5/2024).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada April 2024 akan mencapai US$3,24 miliar. Angka ini menurun dibandingkan surplus pada Maret 2024 yang mencapai US$4,47 miliar.

Menurut konsensus, ekspor pada April 2024 diperkirakan tumbuh 4,36% secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara impor diperkirakan naik 10,23% (yoy). Pertumbuhan ekspor dan impor ini terjadi di tengah gejolak ekonomi dan ketidakstabilan global.

Data penting dari dalam negeri juga akan dirilis oleh Bank Indonesia pada hari ini Rabu (15/5) yang akan membahas terkait Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Maret 2024.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah merilis data Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah Indonesia pada periode Februari 2024. Menurut laporan tersebut, ULN pemerintah mencapai US$ 194,8 miliar, meningkat 1,3% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya yang hanya sebesar 0,1% (yoy).

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Banyak Kabar Genting AS, Dolar Masih Bertahan di Rp 16.000


(mza/mza)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *